Mitos dan Fakta yang Perlu Diketahui tentang Jamu dan Obat Kimia

Mitos dan Fakta yang Perlu Diketahui tentang Jamu dan Obat Kimia

Sudah lama sebelum munculnya obat-obatan kimia, nenek moyang kita menggunakan bahan-bahan alami dari berbagai macam tumbuhan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Namun, mengapa sekarang ini banyak ditinggalkan?

Alasan dari banyak ditinggalkannya obat-obatan alami tidak lain disebabkan oleh perkembangan dari industri farmasi itu sendiri. Penemuan-penemuan zat kimia yang dilakukan pengujian efektivitas, keamanan dan efek sampingnya kepada manusia (uji klinis) telah menggeser persepsi bahwa bahan-bahan alami tersebut bisa digantikan dengan bahan lebih murah, lebih ampuh, dan lebih menguntungkan secara bisnis.

Pengembangan-pengembangan dari obat herbal tradisional masih jauh dibandingkan dengan obat berbahan kimia. Penetapan standar berdasarkan penelitian-penelitian hanya berfokus pada obat kimia semata. Sementara industri jamu herbal merasa kesulitan mengikuti standar yang ada.

Ada tiga tahapan besar dari industri jamu herbal ini sendiri, mulai dari Jamu, Obat Herbat Terstandar (OHT), dan terakhir adalah Fitofarmaka.

Sekarang, mari kita bahas mengenai mitos dan fakta mengenai jamu sebagai alternatif pengganti obat kimia. Beberapa diantaranya, adalah sebagai berikut:

  • Apakah jamu dapat menyembuhkan berbagai penyakit?

Secara umum ini adalah mitos, karena menurut Ir. Heru D. Wardana, jamu tidak dapat menyembuhkan penyakit. Ia menuturkan, fungsi jamu pada dasarnya adalah sebagai pencegah datangnya penyakit. Khasiat yang ada di tanaman-tanaman jamu memang benar memiliki manfaat untuk menyembuhkan, namun untuk sampai kesana butuh penelitian lebih jauh lagi.

Jika hanya untuk preventif, minum jamu seduhan sudah cukup baik dan dianjurkan dengan tujuan untuk mencegah datangnya penyakit serta menjaga daya tahan tubuh. (sumber: kompas.com)

  • Bisakah minum obat kimia dibarengi dengan minum jamu?

Beberapa obat, faktanya tidak dianjurkan diminum berbarengan dengan jamu. Karena beberapa obat tersebut memiliki kontraindikasi terhadap beberapa bahan tertentu. Sehingga, dikhawatirkan akan meningkatkan efek dari obat kimia itu sendiri. Jika pun tetap ingin mengkonsumsi jamu, pastikan ada jeda setelahnya minimal 2 jam. (sumber: health.detik.com)

  • Reaksi efektivitas jamu lebih lama dibandingkan dengan obat kimia?

Memang banyak yang mengasumsikan bahwa konsumsi jamu harus dalam kuantitas yang banyak dalam periode waktu yang cukup lama baru akan terlihat hasilnya. Sebetulnya, hal tersebut bergantung sekali dengan jenis tanaman herbal apa, dan dalam mengobati penyakit seperti apa, dan seberapa parah tingkat penyakitnya?

Faktanya, jika penyakit tersebut bukan hal yang parah, efektivitasnya bisa menyembuhkan dengan cepat. Misalnya seperti gejala flu ataupun maag. Berbeda cerita jika jamu digunakan untuk penyakit kronik, efektivitasnya akan berbeda. (sumber: lovethegarden.com)

  • Semua jamu aman dikonsumsi, terutama yang dijual di pasar?

Hampir semua jamu yang terbuat dari tanaman herbal aman dikonsumsi. Namun, jika sudah berbentuk selain tanaman kering, kita sebagai konsumen tetap harus kritis terhadap produk tersebut. Tanyakan pada penjual, apakah teregistrasi BPOM? Dan sudah ada sertifikasi halal? Jika masih ragu, bisa dicek di website BPOM untuk memastikan.

Hal ini penting, mengingat saat ini banyak sekali orang yang berbisnis tidak baik. Membuat jamu dengan campuran bahan kimia obat, dll, yang justru akan merugikan konsumen.