Kuning pada Bayi Baru Lahir, Bahaya atau Normal?

Perasaan campur aduk antara senang dan cemas. Itulah yang dirasakan Listia (26) saat menggen- dong anak pertamanya setelah melahirkan. Selain karena terlahir prematur, buah hatinya terlihat menguning sejak hari kedua. Bukannya makin menghilang, warna kulit yang kekuningan itu semakin terlihat pada keesokan harinya. “Saya sebenarnya khawatir, tetapi dokter spesialis anak yang membantu tidak gusar. Dokter hanya menyuruh untuk terus memberikan ASI dan perlahan dibawa ke sinar matahari pagi,” cerita Listia sambil terkenang kembali peristiwa enam bulan lalu. Kejadian yang dialami Listia ini kerap terjadi pada Moms yang memiliki newborn. Tentu saja, kisah-ki mesah seperti ini membuat banyak Moms yang sedang hamil pun jadi cemas. Takut-takut bayinya yang nanti lahir ngalami penyakit kuning.

Penumpukan bilirubin
Warna kulit bayi yang menguning berasal dari menumpuknya bilirubin, yang merupakan hasil penguraian sel darah merah manusia. Menurut dr. Rinaldi, SpA., dari Rumah Sakit Sen- tra Medika Cibinong Bogor, sel darah merah yang mengandung zat gizi dan oksigen pada orang dewasa akan terurai sendiri. Bilirubin diolah di dalam hati, lalu dibuang lewat usus dan ginjal bersama tinja dan air kemih. Hal ini berbeda dengan janin. Pada fase janin, bilirubin dikembalikan ke ibu lewat plasenta. “Hati bayi setelah lahir belum bekerja optimal, sedangkan ia harus mengurai sel darah merah. Oleh karena itu, terjadi penumpukan bil- irubin di beberapa tempat, biasa disebut hiper bilirubin, yang ditandai kulit menjadi kuning,” tutur Rinaldi.

Beda gejala, beda penanganannya
Warna kuning biasanya terjadi setelah 2-4 hari bayi dila- hirkan. Dalam fase ini, sel darah merah mulai diurai untuk digantikan sel darah merah baru. Kadar bilirubin pun akan meningkat sampai puncaknya pada hari keenam sampai kedelapan. Kemudian kadar bilirubin berangsur-angsur turun. Umumnya, kadar bilirubin bayi baru lahir hingga 11- 12 miligram/dL di hari puncak tersebut. Jika hal itu terjadi, menurut Rinaldi, Moms tidak perlu cemas. Sebab hal ini tergolong normal. Ia menyarankan untuk menjemur bayi di bawah sinar matahari pagi dan diberi asupan ASI yang cukup. Hanya saja, kadar bilirubin dalam tubuh bayi menentukan tingkat penanganannya. Rinaldi mengatakan ada beberapa tingkat penanganan, yaitu ketika bilirubin bayi lebih dari 12 miligram/dL sejak hari kedua, penanganan terbaik dengan fototerapi atau biasa disebut terapi sinar biru. Bayi akan dimasukan ke tabung dan disinari sinar biru dengan panjang gelombang 420-448 nanometer untuk mengoksidasi bilirubin menjadi biliverdin.

Tingkatan kadar bilirubin kedua adalah lebih dari 25 miligram/dL pada hari kedua sampai keempat. Penanganan pada kondisi ini tidak cukup dengan fototerapi. Bayi perlu mendapat transfusi darah dari pendonor. Tingkatan kadar bilirubin ketiga, jika bilirubin bayi lebih dari 30 miligram/dL, pada hari kedua sampai keempat. Dalam kadar tersebut, bilirubin dapat meracuni mata yang bisa berakibat kebutaan, dapat berefek pada telinga yang berakibat ketulian, dan dapat berefek pada otak yang ditandai dengan kejang-kejang. Kondisi ini bisa menimbulkan kecacatan, penurunan kecerdasan pada anak, bahkan kematian. “Jadi penting kita lihat pada hari keberapa dulu kuningnya itu. Kalau 12 miligram tapi dari hari kedua maka harus terapi sinar biru. Tetapi kalau pada hari ke tujuh, maka lazim saja,” ucap Rinaldi.

Namun berbeda kondisi jika kuning pada bayi sudah terlihat sejak hari pertama kelahiran atau hingga hari ke-14. Rinaldi mengatakan ini merupakan gejala patologis atau penyakit yang perlu pemeriksaan dan perawatan intensif. “Bisa jadi infeksi virus atau penyakit metabolik, seperti sel darah merah yang tidak normal, bisa juga penyumbatan kantong empedu, ketidakcocokan darah, dan lebih banyak lagi sebabnya,” tambahnya.

Penyebab Hiper Bilirubin

Penyebab kuning pada bayi cukup banyak. Namun lazimnya yang terjadi adalah karena kelahiran prematur. Hal ini disebabkan hati yang mengurai darah merah, belum beroperasi optimal. “Mayoritas kelahiran prematur, bayi terlihat kuning, wa- laupun berbeda-beda tingkatannya seperti disebutkan tadi. Sebabnya hati belum bisa mengurai secara optimal bilirubin,” tuturnya. Batas aman kuning pada bayi prematur adalah kurang dari 10 miligram/dL. Lebih dari itu Moms harus hati-hati, ya. Harus segera diatasi agar tidak menimbulkan komplikasi.

Bisakah Dicegah?

Sayangnya, tidak ada cara baku untuk mencegah bili- rubin pada bayi menjadi tinggi pasca kelahiran. Sebab, hal ini terjadi secara alamiah dan umum, baik kelahiran secara normal, cesar, ataupun prematur. Kuncinya adalah Moms harus memantau kondisi bayi, khususnya pada hari-hari krusial, yaitu hari pertama, ketujuh, dan ke-14. Jangan lupa, Moms tetap perlu memeriksakan si kecil ke fasilitas kesehatan, terutama jika kuning terjadi pada hari pertama kelahiran atau ke-14, kondisi bayi tampak loyo, serta demam lebih dari 37,8 derajat celsius.